Sunday, September 02, 2007
Sengkarut waktu yang selama ini seakan menyindirku dengan wajah bengisnya seakan mempertegas jiwaku yang semakin kerdil. Bening embun pada tetesan daun seakan tak mampu mewakili jiwaku yang sakit. Aku terkurung dalam lingkaran kebencian pada orang-orang yang selama ini mempelasahku dengan mata apinya.
Pagi ini memang aku tak ingin beranjak kemanapun, aku hanya ingin menikmati teh hangat yang selalu aku seduh pada tetesan luka. Masih terngiang omelan nenekku yang puluhan tahun lalu telah pergi, mainan masa kecilku dan semua aktivitas mimpi yang aku arungi tadi malam.
Perjalanan menuju sempurna. Yah, mungkin semua orang mengarah kesana. tapi aku memang terasing disini. Ada yang tak mampu aku tuntaskan dari setiap kesunyian yang aku setubuhi. Semuanya hanyalah bentuk dari kemunafikan yang maha sempurna
Tuhan, maafkan aku jika sempat meragukan keagunganMU, aku hanya debu yang selalu jadi noda bagi semua orang lain. Mereka seakan bicara aku memang tak pantas untuk kau cipta.
Sruppp... ahhh... sungguh nikmat teh ini.
Pekanbaru Akhir Agustus 07
Posted at 01:06 pm by ipank
Friday, December 29, 2006
setelah tadi malam aku letih berjalan di hektar - hektar doa
dan air mata, mungkin sudah saatnya kurapikan waktu, berharap
senja masih mau berkompromi dengan jiwaku yang makin kerdil.
Tahajudku untukmu duhai maha abadi...
Posted at 06:07 pm by ipank
Sunday, September 11, 2005
Perawanku...
wajah siapa lagi yang hendak kau sapa
pada tubuh puisi itu?
Cintakah?
Perawanku...
Mulutmu yang mungil melenggak-lenggok
dan menari riang di kosong jiwaku
diiringi merdunya alunan puisi rindu
Perawanku...
izinkanlah aku untuk selalu setia
pada teduh wajahmu
dan akan kutapaki setiap jengkal ranum
bathinmu disudut mata yang tak lelah akan indah
buaimu
Perawanku...
keep smile oK!
Posted at 04:46 pm by ipank
Permalink
Friday, September 09, 2005
:Untuk Dian yang pergi tak pamitan
Badai yang berkecamuk di dada ini,
sungguh telah membinasakan seluruh asa.
Maafkan Bidadari, Perjalanan ini harus terputus.
Semua episode cinta ini
akan aku simpan baik-baik
di Buku Harian sisa perjalan Hidupku.
dan kubingkai indah di lubuk hati yang paling dalam.
Selamat jalan Sayang.
Doa tulus ini akan
membimbingmu berjalan.
Tuhan, titip bidadariku
Posted at 08:40 am by ipank
Permalink
Saturday, March 26, 2005
Halo apakabar say!
Embun dimatamu makin kinclong aja
oh yah, getar ini masih sama seperti dulu lho.
Kapan kamu mampir ke sunyi jiwaku?
Nanti kalo main kesini, bawakan aku senyum itu
yah, Soalnya aku kangen sekali
Bye.....
Posted at 08:49 pm by ipank
Permalink
Thursday, March 17, 2005
Peuting ieu akang ngitung baranangna bentang,
peuting ieu akang kakeureut hate.
kanyaah, kadeudeuh jeung kaasih
Ngahiji jeung beuratna hariwang
iraha bagja bisa kasorang
is...
Kudu kumaha akang nyarita
kudu kasaha niisskeun tunggara
Didieu, kiwari akang sasaur
samemeh janari mapag gulidagna hate,
meungpeueng panonpoe can reureuh nyaangan dunya,
akang moal bosen mikasono anjeun.
is...
dina impenan anjeun ngajirim
gugupay nagih jangji pasini
hampura, hampura akang geulis
nu teu bisa mapagkeun lalangse hate.
Posted at 08:47 pm by ipank
Permalink
Wednesday, February 09, 2005
Aku Menagih janji padamu mendung
katanya kau akan segera berlalu
tapi nyatanya duka masih menghantuiku
aku meminta penjelasan padamu embun
katanya indahmu kekal
tapi nyatanya aku tersingkir getir
Sampai saat ini aku masih menyesali
telah mempersuntingmu, sunyi
katanya kau teman setiaku
tapi nyatanya aku hanyalah
seorang calon mayat
yang bingung harus mati dimana
Apakah ini rencanamu, tuhan?
Atau setidaknya ada yang tahu jawabnya?
Posted at 02:39 am by ipank
Permalink
Kupahat ayat-ayat sayat yang tersirat di dinding kodrat
kutandu rindu yang ada pada lagu yang kutahu itu tak merdu
kugubah sejarah penuh darah penuh lintah
kini kau juga tahu, bahwa aku hanyalah sisa-sisa sunyi
yang mencoba merangkak menyusuri separuh jiwaku
yang dulu pernah akrab denganku.
tapi kini, semuanya sirna ditelan raksasa waktu
yang semakin hari merayap melumat udzur usiaku
tuhan, ada ribuan demonstran yang berontak
dan mencoba untuk keluar dari dalam dadaku.
yang pasti, mereka tak setuju setan jadi presiden
Posted at 02:36 am by ipank
Permalink
Pertempuran belum berakhir kawan, katamu
tolonglah, Pagi ini aku tak mau lagi bertempur denganmu, waktu
ya..., kini aku mengaku kalah
tapi aku mohon jangan tindas aku lagi
karena luka yang menganga belum reda
karena pedih yang merintih masih dikunyah lirih.
Posted at 02:34 am by ipank
Permalink
Saat kumelihat Selembar rambut dikaos hitamku aku baru sadar bahwa tadi siang kau bersamaku bercerita tentang mimpi dan kejamnya waktu yang katamu itu perih dan menyayat kalbu
ohh... kekasihku tangismu adalah sendu Dendammu adalah sebongkah batu Senyummu hampa dan tawamu bisu kau sobek selembar kertas yang ada pada buku Diarymu dan kau bilang: ah, ini tak perlu untukku
Sambil tetap bersandar dipundakku kau masih bercerita meski itu lemah diucapkan pada mulut katupmu kau tampar sendiri mukamu seakan kau benci pada hidupmu yang penuh liku
katakanlah padaku bahwa kau tak akan bunuh diri hanya karna itu karna aku yakin tuhan tak pernah setuju
batam 28 oct 2002
Posted at 02:28 am by ipank
Permalink